Dec 30 2009

Cara Menghentikan Kecanduan Facebook

Bismillah

Anda merasa setiap bangun tidur, Anda harus memeriksa notifications di Facebook?

Anda merasa gelisah jika dalam waktu sehari Anda tidak melihat status update teman-teman Anda?

Apakah Anda merasa kehidupan nyata Anda (anak, istri/suami, keluarga, pekerjaan, sosialisasi, dll) tidak lebih berharga daripada kehidupan Anda di dunia maya?

Apakah Anda mengupdate status lebih dari 2 kali dalam sehari?

Apakah lebih dari separuh jumlah teman Anda di Friends List tidak Anda kenal?

Apakah Anda sering mengganti profile picture, relationship status, ataupun profile page lebih sering dari 12 kali dalam seminggu?

Apakah Anda sering masuk ke banyak grup Facebook (yang walaupun Anda tidak begitu minati, seperti “Cara punya 10ribu teman dalam 5 menit” (eh, padahal maksimal friends di Facebook cuma 5ribu aja loh..)) dan cenderung mengajak teman-teman Anda untuk turut bergabung?

Apakah Anda sering chat di Facebook, walaupun lawan chatting Anda sedang duduk 3 meter jauhnya dari Anda?

Anda lebih memilih untuk mengirimkan undangan pernikahan Anda via Facebook kepada para tetangga demi menghemat waktu dan uang (mungkin karena sudah dialokasikan banyak untuk beli mahar)?

Apakah Anda membaca artikel ini sembari login ke Facebook?

Apakah Anda menyangkal bahwa Anda kecanduan Facebook padahal lubuk hati yang paling dalam Anda mengatakan “saya kecanduan”?

Apakah Anda tetap menyangkal Anda kecanduan, walaupun hidup Anda hancur karena Facebook, seperti kehilangan persahabatan yang sesungguhnya, dipecat, perceraian, menjadi terlalu malas, dsb?

Bila Anda menjawab “ya” atas beberapa pertanyaan di atas, mungkin Anda sedang menderita salah satu penyakit baru yang diidap oleh dosen, mahasiswa, pelajar, pengangguran, ibu rumah tangga, pekerja kantoran, dan berbagai lapisan masyarakat lainnya: Fesbikus Addiktus atawa yang lazim disebut kecanduan facebook. Sejak dirilis tahun 2004 lalu, Facebook merupakan situs yang digemari orang. Popularitasnya bahkan melebihi Friendster (di Indonesia, dilihat dari jumlah pengunjung, data dari alexa.com).

Mungkin Facebook bermanfaat karena dapat dijadikan sarana untuk promosi bisnis, kampanye, misi sosial, mencari kawan lama, dan hal2 positif lainnya. Tapi, dengan maraknya gerakan untuk tidak online di Facebook di Amerika sana, akan membuat orang berpikir tentang perlu tidaknya ia memiliki akun Facebook. Nah, hal2 berikut adalah tips buat Anda yang merasa sisi negatif Facebook lebih banyak dari positifnya.

0. Jangan add friend yang tinggal serumah.
Buat apa? Toh Anda bisa stay connected via handphone. Ngabis2in bandwith Indonesia aja..

1. Jangan add yang tidak kenal
Apalagi cuma berdasar tampang. Tukang foto sekarang lebih keren dari salon Natasha dalam urusan bikin Anda lebih cantik atau ganteng. Tampang saya yang amburadul ini bakal jadi ganteng seperti Ralph Tampubolon atau Choky Sitohang kalau sudah dipermak dengan aplikasi pengolah gambar. (Celana jeeeaaannnsss kaleee dipermak..)

2. Hapus bookmark Facebook.
Semuanya. Yang di Firefox, Opera, Opera Mini, FB di BB, dll. Kalau perlu, deactivate juga akun Facebook Anda (cara ini tidak terlalu berpengaruh).

3. Alihkan kegiatan ke hal lain yang jauh lebih berguna.
Anda bisa baca buku, menulis, berkebun, atau jalan-jalan ke rumah tetangga. Siapa tahu justru pas pulang dikasih oleh2 mangga satu bakul.

4. Pergilah ke Romi Rafael
Dan bilang, “Om, saya kecanduan Facebook, bisa dihipnotis gak biar sembuh?”

5. Berhentilah menganggap Facebook penting.
Terakhir, demi kehidupan Anda, jangan pernah menuhankan Facebook. Om Mark, sang pendiri Facebook, bahkan tidak sering2 online, update status, atau punya teman berjuta-juta. Persahabatan sesungguhnya adalah ketika Anda bisa melihat teman Anda tersenyum, jujur, apa adanya, tanpa perlu melihat apakah seseorang ganteng/cantik, kaya, dsb. Persahabatan bukan angka.

Selamat berhenti dari kecanduan.. Tuhan Bersama kita. :)

Referensi :
- http://alexa.com
- http://www.eramuslim.com/berita/dunia/amerika-ramai-ramai-berhenti-kecanduan-facebook.htm
- http://ekoarief.ngeblogs.com/
- http://meetabied.wordpress.com/2009/11/22/cara-mengurangi-kecanduan-facebook-2/
- http://www.facebook.com/notes/yoera-sepheny/degradasi-facebook/110529701874

PS: karena saya bukan psikolog, atau punya latar belakang psikologi, segala komentar/kritik atas artikel ini dipersilakan.


Dec 21 2009

Cara Menyembunyikan Identitas Diri Dengan Fitur Mosaic di Gimp

Bismillah

* anjrit judulnya kayak rel kereta api…

Anda introvert tingkat akut dan tak mau difoto? Anda ingin mengedit foto sehingga wajah Anda tak terlihat orang lain? Anda tak mahfum menggunakan Photoshop? Anda prefer GIMP dari aplikasi pengolah gambar yang lain? Jika jawaban dari semua pertanyaan di atas adalah YA, Anda datang ke dukun orang yang tepat!

0. Buka foto menggunakan aplikasi GIMP ( bisa didownload gratis di http://gimp.org )
1. Pilih wajah Anda, lakukan dengan rectangle select tool atau ellipse select tool (R atau E sebagai shortcut)
2. Select wajah Anda. Klik kanan, lalu pilih Select – Float
3. Nah, Anda udah punya layer baru (kayaknya loh ya.. Maaf kalo salah, maklum saya ini tidak beragama desain grafis). Pilih lagi, klik kanan lagi, lalu pilih Filters – Distort – Mosaic.
4. Setting2 ajah sesuai nafsu Anda, sampai Anda sendiri pun tiada mengenali wajah Anda sendiri. Sudah? OK. Sudah begitu saja..


Dec 15 2009

How to Change Workdir WTK 2.5.2 in Linux

Bismillah

Edit ktools.properties
$ vim /home/sangprabo/opt/wtk-2.5.2/wtklib/Linux/ktools.properties

And add the following line to the file
kvem.apps.dir:/path/to/your/workdir/

Note the last slash. That’s it.


Dec 15 2009

Tips Membeli Notebook

Bismillah

Wo, G bru mikir mo bli Notebook or maby a “netbook” soalnya slama ini pk yg punya kantor. Well please give an advice apa aj yg mesti jd prtimbangan slain price. Klu slama ni g brpikir a good device tu musti Brprocessor besar, d atas 2.0 Ghz, n punya Memory minimal 2GB. One more Does Dual Core always do more than Single Core Processor ? Which one is better : AMD Athlon or Intel ? Till today I’ll prefer Intel because of the name. Tq.

–R di kota nun jauh

Bung R yang baik
Saya bukan expert yang bisa kasih saran bagus, jadi ini cuma berdasar pengalaman saja ya.. Jadi kalau ada saran or kritik silakan dilayangkan di kolom komentar. Kalau kita lihat di forum-forum tetangga, banyak ditemui dilema semacam ini saat nyepek (membuat spesifikasi sebelum beli komputer/laptop). AMD or Intel? DDR2 or DDR3? Graphic card onboard atau nVidia/ATI? Dan pertanyaan sejenis.. Saya rangkum semuanya di sini saja.
0. Budget
Kalau tidak terlalu bermasalah dengan ini, silakan lanjut ke poin berikutnya. Kalau anggaran kita terbatas, pilihan bisa dikerucutkan menjadi benar-benar sempit. Percayalah, kalau anggaran cuma 6juta, kita akan pulang dengan membawa barang seharga 6,5 juta, atau bahkan 7 juta. Karena biasanya di toko/pameran ketemu barang yang agak lebih bagus sedikit dengan harga yang (menurut kita) tidak terlalu jauh selisihnya. “Ah, sayang nih, cuma beda 500rebu doang, kapasitas HDnya dua kali lipet…”, atau “kalau pilih yang ini, dapet Windows Vista Asli sama payung cantik boo.. Selisih tapi cetiao(sejuta) nih.. “, dsb, dsb.

1. After sales
Kalau memang budget mencukupi untuk beli yang agak highend, saya sarankan untuk memperhatikan betul garansi, service, dan apakah ada master dealer merek laptop tersebut di kota kita. Karena kalau tidak, sedikit ada masalah bisa2 laptop kita “jalan-jalan” dulu ke Jakarta, Surabaya, dsb. Alasannya sih klasik, spare part sama teknisi ada di kota besar. Jangan terpesona dengan kata2 iklan yang memberi garansi bertahun-tahun. Yang digaransi apanya? Banyak loh merek abal2 yang gembar-gembor di iklan, nyatanya (karena mungkin rakitan lokal or hasil refurbished) ancur2an. Saya gak mau sebut merek, bisa2 dipenjara karena pencemaran nama baik.

2. Sesuaikan dengan kebutuhan
Suze Orman menyarankan untuk bertanya pada diri kita sendiri dua hal penting sebelum membeli barang: Is it good? Is it right? Kalau tidak, jangan beli dulu. Sabar, tunggu. Dollar mungkin sedang gila-gilaan. Mungkin musim barang lagi langka karena “tersangkut” di pelabuhan sama bea cukai (dan itu bikin harga jadi mahal). Mungkin pasar lagi “hot-hot”-nya. Kalau Anda tak butuh cepat, kenapa mesti terburu-buru?

Itu soal waktu beli. Sekarang soal “dipakenya laptop buat apa aja”. Misal kita cuma senang main solitaire dan mengetik laporan, kenapa harus punya laptop seharga 25juta? (Buat yang tersindir, saya mohon maaf) Kalau kita kuat menenteng 2 kilo, kenapa harus beli yang mini dengan keyboard kecil2? Seekstrim apa sih pekerjaan kita sehingga kita beli laptop yang anti air, anti gores, anti banting? Sesering apa sih kita berjauhan dari listrik sehingga kita beli laptop dengan batreinya tahan 20 jam (setiap cafe yang ada hospotnya masak gak nyediain colokan listrik)?

Sesuaikan kebutuhan dengan spesifikasi berikut
a. Processor
Sepertinya sudah jadi rahasia umum, nama besar tak menjamin performa. AMD tak selalu lebih buruk dari Intel. Celeron nggak jelek2 amat kalau cuma buat make aplikasi office. Intel Atom, ya sesuai namanya, biasanya dipakai untuk laptop 10″, memang seperti itulah kemampuannya (buat mengurangi heat dan irit batrei mungkin).

Ngomong2 soal produk Intel aja nih ya..
Intel mengeluarkan Celeron, Pentium, sama Core. Jadi, kalau kita lihat2, nama processornya mereka diawali dengan Intel lalu Celeron/Pentium/Core. Masing2 seri ini punya karakteristik masing2 (daripada ditulis ulang di sini, silakan lihat di situs resmi Intel atau Wikipedia), tapi secara umum bila dilihat dari segi fitur, performa, dan harga, urutannya mulai dari yang terendah sampai yang tertinggi : Celeron, Pentium Dual Core, lalu yang paling baru Core dan Core 2. Belakangan, setelah merilis Pentium Dual Core, Intel mengubahnya lagi menjadi Pentium saja. Biasanya kita lihat dalam wujud spesifikasi di laptop “Intel Pentium SU(angka)”, buat yang masih pake Pentium Dual Core Txxxx itu mungkin versi jadul dari Pentium Dual Core. Khusus untuk Core 2 Duo, mereka sudah 2 MB cachenya. Clock tinggi gak jamin juga performa bagus, selain itu ada FSB (biasanya sudah 800MHz) dan cache. Core 2 Duo maksudnya dia punya 2 pararel processors yang saling membagi load (kerasa kalau dibandingkan dengan prosesor lain dengan clock sama saat kita memakai aplikasi yang multithreading seperti video editing atau photoshop).

b. Ukuran layar
Tinggal pake feeling ajah kok, kalau sering coding yang perlu widescreen, ambil yang wide. Tapi kalau kuat memandang font kecil2, dan ke-mini-an, ambil yang 10″. Enough said.

c. RAM
DDR3 masih mahal, dan improvementnya tak terlalu terasa kalau dibandingkan dengan DDR2 dengan kapasitas yang sama.

d. Harddisk
Kalau beli dengan kapasitas kecil pun tak apa, nanti seiring dengan bertambahnya kebutuhan bisa pakai harddisk external (ingat, harga media simpan seperti HD, flashdisk, makin lama makin murah!)

e. Graphic card
Intel GMA pun sebenarnya sudah cukup kalau kita tak pernah pakai aplikasi yang perlu graphic bagus. Anda mau video editing atau bikin animasi dari laptop? Kenapa tidak beli PC Desktop yang high end?

f. Sistem operasi
Jangan mengejar laptop dengan bundle bonus sistem operasi asli, beli terpisah pun tak apa.

g. Wi card, usb slot
Alasan orang pakai laptop selain mobilitas, juga perkara internet. Jadi ini spek yang wajib ada. USB slot berguna buat peralatan tambahan kalau2 memang fitur laptop dirasa kurang, seperti webcam (ada yang 300rebu), card reader (paling 60rebu), bluetooth (80rebu), media simpan external, dan lain2.

3. Alasan lain2 yang remeh temeh
Mungkin terdengar sepele, tapi demi mengerucutkan pilihan, ada orang yang memperhatikan hal2 kecil. Contoh, ada yang tak suka bila tombol Control sebelah kiri tidak tepat berada di pojok, atau bila desainnya agak “gendut”, atau kipas processornya berada di sebelah kanan (karena bikin tangan panas, buat yang non-kidal), atau hal2 semacam itu.

Terakhir, kata temen kos saya, “Puaslah dengan apa yang kita beli, karena itulah cara menikmati barang hasil beli sendiri”. Selamat membeli laptop, semoga berhasil.. :)


Nov 28 2009

Hiruk Pikuk Pembagian Daging Kurban

Bismillah

Judul postingan ini sama persis dengan judul berita yang bikin miris di Metro TV beberapa hari yang lalu, kalau tidak salah pada program Suara Anda (aduh, kemarin pas Frida Lidwina tidak jadi anchor). Beberapa berita serupa muncul di stasiun TV berbeda. Intinya sama: menunjukkan kalau di beberapa tempat, orang Islam masih kurang profesional mengelola “acara” yang sudah pasti ada tiap setahun sekali.

Pertanyaan besarnya tentu “mengapa hal ini bisa terjadi?” Ada begitu banyak orang yang tidak mendapat jatah daging kurban. Ada orang yang desak-desakan antre sampai rela berkorban nyawa demi daging yang tak seberapa. Di tempat lain, ada masjid yang berlebihan dagingnya, sehingga ada orang2 yang sebenarnya tak berhak menerima pun turut dibagi.

Di tempat saya, prosesnya biar aman seperti ini. Pertama, panitia sudah terbentuk jauh-jauh hari sebelumnya, lalu membagikan kupon (yang jumlahnya diperkirakan dari data ketua RT). Kedua, di hari H, bila memang penerimaan hewan kurban terlalu banyak untuk dipotong dalam satu hari, panitia tidak memaksakan diri. Ketiga, saat hari H, hanya orang yang membawa kupon saja yang berhak mengambil jatah hewan kurban. Selesai.

Lalu, bagaimana bila memang ada orang yang tidak mengambil jatah? Ada orang2 yang sudah memegang kupon, tapi (misalnya) tidak datang. Ya sudah, dianterin sahaja ke rumah yang bersangkutan langsung, atau diserahkan kepada Ketua RT masing-masing. Tak mungkin sehari tidak selesai. Gancil lah.. Kalau dari Rumah Zakat, itu lebih keren lagi. Jadi distribusi tinggal mereka yang urus (kabarnya produk hewan kurban mereka sudah kalengan, jadi tahan untuk sekian 3 tahun), kita tinggal setor fulus ajah…

Masih mau bikin orang mati konyol karena keinjek-injek?


Nov 27 2009

Bila Tugas Akhir Tak Kunjung Berakhir

Bismillah

Selamat berjumpa kembali dengan saya dalam tulisan berseri ini, masih dengan tema yang sama, tentu saja. Siapapun yang berkuliah mahfum kalau membuat penelitian, tugas akhir atawa skripsi, tak akan pernah mudah. Apakah hingga sekarang, walaupun Anda telah mengkhatamkan kitab2 yang sudah saya tulis sebelumnya, tugas akhir hanya berkutat di situ-situ sahaja? Apakah tekanan dari keluarga, teman, saudara, siapapun yang Anda temui di jalan yang tanpa sengaja bertanya tentang status Anda sebagai mahasiswa semester akhir, semakin membuat Anda depresi? Apakah tidak ada perubahan berarti setelah Anda menjalani berkali-kali progress report (ya ya yaa… Saya tahu Anda selalu membuat presentasi progress yang “wow” di depan dosen, sehingga terlihat ada ‘progress’ walaupun folder tugas akhir Anda tak pernah Anda buka sama sekali. Saya dulu juga begitu)? Tips-tips berikut untuk Anda.

0. Akademis itu penting
Dulu, ketika saya sudah merasa bisa cari duit sendiri walaupun belum lulus kuliah, saya merasa kuliah itu tidak penting. Teman kos saya waktu itu juga sudah bekerja sebagai junior programmer di salah satu software house. Namun, dia begitu bersemangat untuk menyelesaikan skripsinya. Waktu saya tanya, “Emang yang didapet di kuliah dan dipake di kerjaan sekarang, apa?”. Dia jawab, “Ga ada”. “Hla terus kok masih sibuk kuliah?” saya tanya lagi. Dia bilang, “Karena gak ada programmer yang lulusan SMA”.

Suatu ketika, seorang petinju mengalahkan lawannya yang tangguh dalam sebuah pertandingan hebat. Setelah itu, si petinju diwawancara.
“Apakah kemenangan yang hampir tak mungkin ini adalah momen terindah dalam hidup Anda?” tanya wartawan.
“Tidak”
“Wow.. Masih ada yang lebih indah?”
“Ya, saat suatu hari pelatih bilang hari itu tidak ada latihan. Kadang2, untuk meraih apa yang Anda inginkan, Anda harus lakukan hal yang tak Anda sukai”

Kalau kita perhatikan, dalam bagian pertama semua buku motivasi, pasti dimaksudkan untuk mengubah paradigma awal kita. Pembaca diarahkan untuk menganggap hidup itu mudah, tidak sulit seperti yang kebanyakan orang bayangkan. Pembaca diarahkan untuk tak larut dalam paradigma umum tentang dirinya. Pembaca diarahkan agar memandang positif segala sesuatu. Mengapa paradigma penting? Karena kalau Anda salah pakai kacamata, apapun yang Anda lihat pasti terasa kabur. Jangan pernah percaya pada orang yang bilang bahwa sekolah itu tidak penting. Sekolah itu penting. Kuliah itu penting. Sisi akademis itu penting. Kalau saja Roy Sukro pernah benar2 tamat dari UGM, mungkin orang akan sedikit segan padanya.

“Tapi kan, Bill Gates, orang terkaya di dunia saja, drop out dari kuliah? Purdi Chandra, gak pernah lulus UGM, sekarang jadi jutawan? Terus, Bang Kosim tetangga saya yang sekarang jadi juragan mikrolet, punya bini tiga, sawahnya hektaran, gak pernah lulus SMP..”

Kalau Anda punya pemikiran seperti itu, sama saja seperti bilang, “Muhammad bin Abdullah aja gak bisa baca ama nulis, kok bisa jadi Nabi?” Begini bro, yang namanya nasib kita enggak tahu Tuhan mau kasih jalan ke mana. Yang penting semua macem usaha dicoba sahaja. Perkara kita mau jadi gembel kek, mau jadi milyarder kek, ituh perkara entar. Nyang penting sekarang kelarin dulu tuh skripsi supaya bisa dapet ijazah. Toh kalau seandainya situ memutuskan untuk menjadi satpam bergaji 20 juta sebulan dan hanya perlu ijazah SMA, tinggal pake ijazah SMA aja kan? Gak ada ruginya punya gelar Sarjana. “Jadi, kalau saya jadi satpam, ilmu komputernya entar gak kepake dong?”. Ya tergantung, mungkin sambil ngejagain kompleks orang kaya, Anda bisa nyambi nulis buku komputer, atau bikin situs jualan online, atau apa kek yang bikin duit.. Siapa tahu?

Ya sudah, kalau Anda tetap bersikeras sekolah itu tidak penting. Setidaknya, derita saja penyakit bulimia akademi. Sekali lagi, _bulimia akademi_. Anda makan buku-buku statistika atau aljabar linear elementer sampai mual, Anda baca ribuan paper bahasa Inggris sampe pusing, Anda kerjakan segala macam soal dari internet sampe meriang, Anda pahami sampe demam algoritma tertentu yang Anda pakai sebagai referensi di tugas akhir. Nah, setelah pendadaran Anda selesai, muntahkan! Muntahkan saja segala hal yang tidak penting itu, kalau Anda rasa itu memang tidak penting. Anda kesal karena dipaksa dosen pembimbing untuk melakukan hal yang tidak Anda senangi? Misalnya, Anda pengen skripsi gak pake coding, tapi disuruh coding? Ya sudah, coding saja, baca manualnya sampe eneg, dan setelah Anda keluar dari ruang sidang tugas akhir, muntahkan! Bulimia akademi hampir berhasil untuk semua mahasiswa, sampai2 ketika dalam wawancara kerja mereka ditanya tentang apa yang dibuat untuk tugas akhir, mereke menjawab, “Saya lupa”.

*maaf kalau bagian pertama agak panjang. Maklum, untuk cuci otak…

1. Tetaplah sadar, jangan jadi gila
Sebuah percakapan antara Nick dan Greg di CSI..
“Apakah kau pernah merasa bingung, tak punya tujuan hidup, dan merasa menjadi pecundang?”
“Hmm… Belum”
“Kau akan mengalaminya”

Semua orang pernah merasa “ngeblank”, seakan hidup tak ada artinya. Yang perlu Anda lakukan hanyalah menghindari depresi berat (mental illness), karena itu akan membuat Anda berakhir di RSJ. Makan coklat, sering ngobrol, gaya hidup sehat, meditasi, dengerin musik yang slow, dan sejuta jurus penghilang stress lain akan membantu Anda keluar dari masalah kecil ini. Percayalah, selalu begitu.

Adalah normal menjadi lemah semangat dalam mengejar cita2, yang perlu Anda lakukan hanyalah tidak melewatkan dua hari berturut2 tanpa memikirkan impian Anda –Zenhabits

2. Berolahragalah
Berolahraga membuat tubuh menghasilkan endorfin, semacam zat yang bikin Anda “high” tapi tak bersifat candu. Efeknya, Anda jadi lebih bahagia. Do sport for your better life, kata Metro Sport. Berolahraga bikin jerawat ilang, kata temen saya (patut dibuktikan secara ilmiah).

4. Eliminate distractions
Tutup pintu kamar Anda kala sedang mengerjakan tugas akhir. Kalau besok adalah jadwal Anda untuk menghadap dosen, matikan TV malam ini. Hidupkan internet hanya untuk keperluan skripsi! Yakinlah, HIDUP ANDA jauh lebih penting daripada status FB teman Anda yang senada dengan “makasih untuk hari ini ya honneeyy.. love dis momen so muuchh..” atau “T.T hiks hiks.. Dia tega meninggalkanku” atau “sebel sebel sebel sebeeeelll… huh!” atau “asssiiiikkk….” atau “sedang makan tempe” atau “Gaya cowok seperti apakah kamyu?” atau “Ikuti kuis: apa cuaca yang paling cocok sama kamu?” atau “Note: Pokoknya yang kena tag harus ngisi dan kirim ke 100 teman yang lain!” atau “Temanmu Frida Lidwina telah mengajakmu menjadi tetangganya di aplikasi Kampung Kandang! Klik di mari untuk mulai main!”

5. Rajin-rajinlah membaca, maka Anda akan rajin pula menulis
Tiap hari kecuali hari Minggu, pergilah ke perpustakaan. Cari skripsi kakak angkatan yang ada kaitannya dengan skripsi Anda. Baca sampai mata Anda berkunang. Lalu istirahatlah sejenak, misal dengan baca Parodi di Kompas edisi Minggu. Baca lagi, sampai Anda punya banyak perbendaharaan kata untuk mulai merangkainya menjadi buku 100 halaman (jumlah standar halaman untuk skripsi).

6. Berdoalah, dan minta seluruh dunia untuk bantu mendoakan Anda
Setiap bertemu dengan siapapun yang bertanya “gimana skripsinya?”, jangan langsung emosi dan menjawab “WOI KAMPRET! MAU CARI MATI YA?”. Memang, ada kalanya kita jadi cenderung sensitif di saat2 seperti ini. Lebih elegan kalau Anda jawab _seadanya_. “Skripsi saya mentok nih di Bab 4, minta doanya ya supaya cepet selesai…” atau “Tinggal kesimpulan sih.. Tapi dosen saya sekarang lagi liburan di Bosnia, doain supaya beliau cepet pulang ya.. ” atau “Iya nih, pikiran buntu. Belum dapet ide untuk tema penelitian yang bisa di-acc. Mohon dukungan morilnya yaa..” atau “Semangatin guwa dong.. Bete gak sih liat dosen gak pernah bisa diajak ketemuan?”

Mudah-mudahan bermanfaat.


Nov 25 2009

Setting Push Email di Handphone

Bismillah

Tidak perlu handphone sekelas BlackBerry kalau Anda sibuk menerima puluhan email per lima menit sekali. Berikut tipsnya.

0. Buat email di Google Mail. Kalau Anda punya akun di layanan email lain, silakan berhenti membaca.
1. Tuju setting email account di handphone Anda. Pilih tipe koneksi IMAP. Masukkan username (berupa alamat email Anda, misalnya john.doe@gmail.com), dan password email Anda.
2. Untuk setting inbox, masukkan incoming server address: imap.gmail.com.
3. Untuk setting outbox, masukkan outgoing server address: smtp.gmail.com.
4. Sudah, begitu saja.

Ada kontroversi saat SMS baru booming pertama kali bertahun yang lalu, banyak pakar berpendapat bahwa tren SMS akan mati dalam waktu yang tak berapa lama. SMS dinilai sebagai teknologi yang salah kaprah, karena dengan 160 karakter pesan singkat, kita harus membayar berkali lipat lebih mahal dibanding dengan biaya GPRS. Kalau saja, sekali lagi, kalau saja orang lebih prefer email ketimbang SMS, mungkin komunikasi jadi lebih gampang, dan lebih murah tentu saja. Mari populerkan email :)